Pages

Teknik Penulisan Soal Bentuk Uraian

TEKNIK PENULISAN SOAL BENTUK URAIAN
Pengertian
Soal bentuk uraian adalah suatu soal yang jawabannya menuntut siswa untuk mengingat dan mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis. Selain mengukur kemampuan siswa dalam hal menyajikan jawaban terurai secara bebas, juga menyangkut pengukuran kemampuan siswa dalam hal menguraikan atau memadukan gagasan-gagasan, atau menyelesaikan hitungan-hitungan terhadap materi atau konsep tertentu seperti terdapat dalam mata pelajaran Matematika dan IPA secara tertulis.
Berdasarkan penyekorannya, soal bentuk uraian diklasifikasikan atas uraian objektif dan uraian nonobjektif. Soal bentuk uaraian objektif (BUO) adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tetrtentu sehingga penyekorannya dapat dilakukan secara objektif. Sedangkan soal bentuk uraian nonobjektif (BUNO) adalah suatu soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian atau konsep menurut pendapat masing-masing siswa sehingga penyekorannya mengandung unsur subjektifitas (sukar dilakukan secara objektif).
Perbandingan antara Soal BUO dan BUNO
Perbedaan antara soal BUO dan BUNO terletak pada kepastian penyekorannya. Pada soal BUO kunci jawaban dan pedoman penyekorannya lebih pasti (diuraikan secara jelashal-hal komponen yang diskor dan berapa besarnya skor untuk setiap komponen). Pada soal BUNO pengaruh unsur subjektifitas dalam penyekoran dapat dikurangi dengan cara membuat rentang skor untuk setiap kriteria. Dengan kata lain, pedoman yang rinci dan jelas dapat digunakan oleh orang yang berbeda untuk menyekor jawaban masing-masing siswa sehingga hasil penyekorannya relatif sama.
Skor soal BUNO dinyatakan dalam bentuk rentangan karena hal-hal atau komponen yang diskor hanya diuraikan secara garis besar dan berupa krteria tertentu.
Keunggulan dan Keterbatasan
Secara umum keunggulan soal bentuk uraian adalah dapat mengukur kemampuan siswa dalam hal mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiiri.
Sedangkan beberapa kelemahannya, antara lain adalah jumlah materi atau pokok bahasan yang dapat ditanyakan sangat terbatas, waktu untuk memeriksa jawaban siswa cukup lama, pensekorannya relatif subjektif, khususnya untuk soal BUNO, dan tingkat reliabilitasnya relatif renda dibanding dengan soal-soal bentuk ilihan ganda. 
Kaidah-kaidah Penulisan Soal Bentuk Uraian
Pada dasarnya setiap penulisan soal bentuk uaraian harus selalu berpedoman pada langkah-langkah atau kaidah-kaidah penulisan soal secara mum, misalnya mengacu pada kisi-kisi tes yang telah dibuat dan tujuan soalnya jelas.
Dalam menulis bentuk uraian, seorang penulis soal harus sudah mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman, dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan kata lain, ruang lingkup ini merupakan kriteria luas atau sempitnya masalah yang ditanyakan. Hal ini harus tegas dan jelas tergambar dalam rumusan soalnya. Dengan adanya batasan ruang lingkup tersebut, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari. Ruang lingkup tersebut juga akan membantu mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penyekoran.           
 Beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam penulisan soaol bentuk uraian adalah; a) materi, b) konstruksi, dan c) bahasa. Secara rinci kaidah tersebut diuraikan di bawah ini.
A. Materi
1.      Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal arus mananyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
2.      Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang ingkup) harus jelas.
3.      Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran.
4.      Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkat kelas.
B. Konstruksi
1.      Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai, seperti: mengapa uraikan, jelaskan, bandingkan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut uraian, misalnya: siapa, di mana, kapan. Demikian juga kalimat tanya yang hanya menuntut jawaban ya atau tidak.
2.      Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
3.      Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soalnya ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penyekoranya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentangan skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan.
4.      Hal-hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar, rafk, peta, atau yang sejenisnya, harus disajikan dengan jelas dan terbaca sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.
C. Bahasa
1.      Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa.
2.      Butir soal menngunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3.      Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
4.      Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk tingkat daerah atau nasional.
5.      Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang menyingung perasaan siswa.
Penyusunan Pedoman Penyekoran
Pedoman penyekoran merupakan panduan atau petunjuk yang menjelaskan tentang:
1.      batasan atau kata-kata kunci untuk melakukan penyekoran terhadap soal-soal BUO.
2.      kriteria-kriteria jawaban yang digunakan untuk melakukan penyekoran terhadap soal-soal BUNO.
Pedoman pemberian skor untuk setiap butir soal uraian harus disusun segera setelah perumusan kalimat-kalimat butir soal tersebut. Banyak penulis soal yang memiliki kebiasaan kurang baik seperti menuliskan pedoman pemberian skor soal bentuk uraian ketika akan memeriksapekerjaan siswa. Cara ini kurang baik an kurang dapat dipertanggungjawabakankarena dapat mempengaruhi objektifitas penyekoran dan penilaian. Bila cara ini digunakan guru, maka objektifitas yang diinginkan dalam tes bentuk araian tidak akan dapat tercapai.
Perbandingan antara Bentuk Soal Pilihan Ganda dan Uraian
Karakteristik
Uraian
Pilihan Ganda
Penulisan Soal
Relatif mudah
Relatif sukar
Jumlah Pokok Bahasan yang Ditanyakan
Terbatas
Lebih banyak
Aspek yang Diukur
Dapat lebih ari satu
Hanya satu
Persiapan Siswa
Penekanannya pada kedalaman materi
Lebih menekankan pada keluasan materi
Jawaban Siswa
Mengorganisasikan jawaban
Memilih jawaban
Kecenderungan menebak
Tidak ada
Ada
Penyekoran
Sukar, lama, kurang konsisten (reliabel) dan subjektif
Mudah, cepat, sangat konsisten dan objektif
Contoh-contoh pedoman penyekoran serta cara-cara melakukan penyekoran untuk kedua jenis soal uraian (BUO dan BUNO) adalah sebagai berikut:
A. Uraian Objektif
Jenis Sekolah     : SD
Mata Pelajaran   : Matematika
Kelas/Cawu       : 6/II
PB/SPB             : 9.1
Indikator           : Siswa dapat menghitung isi bangun ruang (balok) dan mengubah satuan ukurannya.
Butir Soal          : Sebuah bak mandi berbentuk balok berukuran panjang 150 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm. Berapa literkah isi bak mandi tersebut? (Untuk mengerjakannya tuliskan langkah-langkahnya).
Pedoman Penyekoran
LANGKAH
KUNCI JAWABAN
SKOR
1
2
3
4
5
Isi balok  = panjang x lebar x tinggi
                = 150 cm x 80 cm x 75 cm
                = 900.000 cm3
Isi Bak mandi dalam liter =  900.000
                                                             liter
                                                  1.000
                = 900 liter
1
1
1
1
1
Skor maksimum
5
B. Uraian Nonobjektif
Jenis Sekolah     : SD
Mata Pelajaran   : PPKn
Kelas/Cawu       : 6/I
PB/SPB             : Persatuan dan Kesatuan
Indikator           : Siswa dapat menjelaskan tentang rasa bangganya sebagai bangsa Indonesia.
Butir Soal          : Jelaskan alasan apa saja yang membuat kita perlu berbangga sebagai bangsa Indonesia! 
Jawaban boleh bermacam-macam, namun pada pokoknya jawaban dapat dikelompokkan sebagai berikut:
KRITERIA JAWABAN
RENTANG SKOR
Kebanggan yang berkaitan dengan alam Indonesia
0 – 2
Kebanggan yang berkaitan dengan keindahan tanah air Indonesia (pemandangan alamnya, geografisnya, dsb.)
0 – 2
Kebanggan yang berkaitan dengan kenekaragaman budaya, suku, adat istiadat, tetapi dapat bersatu
0 – 2
Kebanggan yang berkaitan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia
0 – 2
Skor mkasimum
8
 Pembobotan Soal Uraian
 Pembobotan
Pembobotan soal adalah pemberian bobot kepada suatu soal dengan cara membandingkannya dengan soal lain dalam suatu perangkat tes yang sama. Dengan demikian, pembobotan soal uraian hanya dapat dilakukan dalam penyusunan perangkat tes. Apabila suatu soal uraian berdiri sendiri maka tidak dapat dihitung atau ditetapkan bobotnya.
Bobot setiap soal uraian yang ada dalam suatu perangkat tes ditentukan dengan mempetimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan materinya dan karakteristik soal itu sendiri, seperti luas lingkup materi yang hendak dibuatkan soalnya, esensialitas dan tingkat kedalaman materi yang ditanyakan, dan tingkat kesukaran soal tersebut.
Di samping faktor-faktor tersebut, hal-hal lain yang perlu pula dipertimbangkan dalam pembobotan soal uraian adalah skala penskoran yang hendak digunakan, misalnya skala 10, skala 100. Apabila digunakan skala 10, misalnya, maka jumlah bobot semua soal itu harus 10 dan terbagi dalam semua soal yang ditanyakan. Dengan demikian, andaikata ada tiga soal. Mungkin saja soal No. 1 bobotnya 5, soal No. 2 bobotnya 2, dan soal No. 3 bobotnya 3. Apabila digunakan skala 100, maka jumlah bobot semua soal yang ditanyakan dalam perangkat tes itu harus 100, yang dirincikan dalam setiap soal yang ditanyakan. Hal ini semata-mata untuk memudahkan penghitungan skor.
Sebagaimana telah dikatakan di atas, tiap soal uraian, Baik BUO maupun BUNO, mempunyai skor mentah maksimum sendiri. Skor mentah maksimum suatu butir soal uraian tidak ada hubungannya dengan bobot soal tersebut. Dengan demikian, suatu soal dengan skor mentah maksimum 6, misalnya, dapat mempunyai bobot soal yang sama dengan skor mentah maksimum itu, dapat pula lebih rendah atau lebih tinggi daripada skor mentah maksimum itu.
Skor jadi yang diperoleh siswa yang menjawab suatu butir soal uraian ditetapkan dengan jalan membagi skor mentah yang diperoleh dengan skor mentah maksimum soal dan kemudian dikalikan dengan bobot soal tersebut. Rumus yang dipakai untuk penghitungan skor butir soal (SBS) adalah:
             A
SBS =           x   C
             B
Catatan:  SBS  = Skor Butir Soal
                    A =  skor mentah yang diperoleh siswa untuk butir soal itu
                    B =  skor mentah maksimum soal tersebut.
                    C =  bobot soal
Setelah diperoleh skor pada setiap soal (SBS), maka dapat dihitung total skor butir soal sebagai skor total siswa (STS) untuk serangkaian soal dalam tes itu, dengan menggunakan rumus:
STS  =  Ã¥  SBS
Contoh:
A. STS = Total bobot soal
* Dengan skala 10
No. Soal
Skor Mentah Perolehan
Skor Mentah Maksimum
Bobot Soal
Skor Butir Soal
(A)
(B)
(C)
(SBS)
1.
60
60
20
20,00
2.
40
40
30
30,00
3.
20
20
30
30,00
4.
20
20
20
20,00
Jumlah
140
140
100
100,00(STS)
B. STS  ¹  Total bobot soal
* Dengan skala 100
No. Soal
Skor Mentah
Skor Mentah Maksimum
Bobot Soal
Skor Butir Soal
(A)
(B)
(C)
(SBS)
1.
30
60
20
10,00
2.
40
40
30
30,00
3.
20
20
30
30,00
4.
10
20
20
10,00
Jumlah
100
140
100
80,00(STS)
Dalam penghitungan skor untuk satu butir soal (SBS) dan dalam penghitungan skor total siswa (STS) untuk suatu perangkat tes, tidak terdapat perbedaan antara soal uaraian objektif dan soal uraian nonobjektif.

Teknik Penulisan Soal Bentuk Uraian


TEKNIK PENULISAN SOAL BENTUK URAIAN
Pengertian
Soal bentuk uraian adalah suatu soal yang jawabannya menuntut siswa untuk mengingat dan mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis. Selain mengukur kemampuan siswa dalam hal menyajikan jawaban terurai secara bebas, juga menyangkut pengukuran kemampuan siswa dalam hal menguraikan atau memadukan gagasan-gagasan, atau menyelesaikan hitungan-hitungan terhadap materi atau konsep tertentu seperti terdapat dalam mata pelajaran Matematika dan IPA secara tertulis.
Berdasarkan penyekorannya, soal bentuk uraian diklasifikasikan atas uraian objektif dan uraian nonobjektif. Soal bentuk uaraian objektif (BUO) adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tetrtentu sehingga penyekorannya dapat dilakukan secara objektif. Sedangkan soal bentuk uraian nonobjektif (BUNO) adalah suatu soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian atau konsep menurut pendapat masing-masing siswa sehingga penyekorannya mengandung unsur subjektifitas (sukar dilakukan secara objektif).
Perbandingan antara Soal BUO dan BUNO
Perbedaan antara soal BUO dan BUNO terletak pada kepastian penyekorannya. Pada soal BUO kunci jawaban dan pedoman penyekorannya lebih pasti (diuraikan secara jelashal-hal komponen yang diskor dan berapa besarnya skor untuk setiap komponen). Pada soal BUNO pengaruh unsur subjektifitas dalam penyekoran dapat dikurangi dengan cara membuat rentang skor untuk setiap kriteria. Dengan kata lain, pedoman yang rinci dan jelas dapat digunakan oleh orang yang berbeda untuk menyekor jawaban masing-masing siswa sehingga hasil penyekorannya relatif sama.
Skor soal BUNO dinyatakan dalam bentuk rentangan karena hal-hal atau komponen yang diskor hanya diuraikan secara garis besar dan berupa krteria tertentu.
Keunggulan dan Keterbatasan
Secara umum keunggulan soal bentuk uraian adalah dapat mengukur kemampuan siswa dalam hal mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiiri.
Sedangkan beberapa kelemahannya, antara lain adalah jumlah materi atau pokok bahasan yang dapat ditanyakan sangat terbatas, waktu untuk memeriksa jawaban siswa cukup lama, pensekorannya relatif subjektif, khususnya untuk soal BUNO, dan tingkat reliabilitasnya relatif renda dibanding dengan soal-soal bentuk ilihan ganda. 
Kaidah-kaidah Penulisan Soal Bentuk Uraian
Pada dasarnya setiap penulisan soal bentuk uaraian harus selalu berpedoman pada langkah-langkah atau kaidah-kaidah penulisan soal secara mum, misalnya mengacu pada kisi-kisi tes yang telah dibuat dan tujuan soalnya jelas.
Dalam menulis bentuk uraian, seorang penulis soal harus sudah mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman, dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan kata lain, ruang lingkup ini merupakan kriteria luas atau sempitnya masalah yang ditanyakan. Hal ini harus tegas dan jelas tergambar dalam rumusan soalnya. Dengan adanya batasan ruang lingkup tersebut, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari. Ruang lingkup tersebut juga akan membantu mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penyekoran.           
 Beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam penulisan soaol bentuk uraian adalah; a) materi, b) konstruksi, dan c) bahasa. Secara rinci kaidah tersebut diuraikan di bawah ini.
A. Materi
1.      Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal arus mananyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
2.      Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang ingkup) harus jelas.
3.      Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran.
4.      Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkat kelas.
B. Konstruksi
1.      Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai, seperti: mengapa uraikan, jelaskan, bandingkan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut uraian, misalnya: siapa, di mana, kapan. Demikian juga kalimat tanya yang hanya menuntut jawaban ya atau tidak.
2.      Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
3.      Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soalnya ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penyekoranya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentangan skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan.
4.      Hal-hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar, rafk, peta, atau yang sejenisnya, harus disajikan dengan jelas dan terbaca sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.
C. Bahasa
1.      Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa.
2.      Butir soal menngunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3.      Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
4.      Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk tingkat daerah atau nasional.
5.      Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang menyingung perasaan siswa.
Penyusunan Pedoman Penyekoran
Pedoman penyekoran merupakan panduan atau petunjuk yang menjelaskan tentang:
1.      batasan atau kata-kata kunci untuk melakukan penyekoran terhadap soal-soal BUO.
2.      kriteria-kriteria jawaban yang digunakan untuk melakukan penyekoran terhadap soal-soal BUNO.
Pedoman pemberian skor untuk setiap butir soal uraian harus disusun segera setelah perumusan kalimat-kalimat butir soal tersebut. Banyak penulis soal yang memiliki kebiasaan kurang baik seperti menuliskan pedoman pemberian skor soal bentuk uraian ketika akan memeriksapekerjaan siswa. Cara ini kurang baik an kurang dapat dipertanggungjawabakankarena dapat mempengaruhi objektifitas penyekoran dan penilaian. Bila cara ini digunakan guru, maka objektifitas yang diinginkan dalam tes bentuk araian tidak akan dapat tercapai.
Perbandingan antara Bentuk Soal Pilihan Ganda dan Uraian
Karakteristik
Uraian
Pilihan Ganda
Penulisan Soal
Relatif mudah
Relatif sukar
Jumlah Pokok Bahasan yang Ditanyakan
Terbatas
Lebih banyak
Aspek yang Diukur
Dapat lebih ari satu
Hanya satu
Persiapan Siswa
Penekanannya pada kedalaman materi
Lebih menekankan pada keluasan materi
Jawaban Siswa
Mengorganisasikan jawaban
Memilih jawaban
Kecenderungan menebak
Tidak ada
Ada
Penyekoran
Sukar, lama, kurang konsisten (reliabel) dan subjektif
Mudah, cepat, sangat konsisten dan objektif
Contoh-contoh pedoman penyekoran serta cara-cara melakukan penyekoran untuk kedua jenis soal uraian (BUO dan BUNO) adalah sebagai berikut:
A. Uraian Objektif
Jenis Sekolah     : SD
Mata Pelajaran   : Matematika
Kelas/Cawu       : 6/II
PB/SPB             : 9.1
Indikator           : Siswa dapat menghitung isi bangun ruang (balok) dan mengubah satuan ukurannya.
Butir Soal          : Sebuah bak mandi berbentuk balok berukuran panjang 150 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm. Berapa literkah isi bak mandi tersebut? (Untuk mengerjakannya tuliskan langkah-langkahnya).
Pedoman Penyekoran
LANGKAH
KUNCI JAWABAN
SKOR
1
2
3
4
5
Isi balok  = panjang x lebar x tinggi
                = 150 cm x 80 cm x 75 cm
                = 900.000 cm3
Isi Bak mandi dalam liter =  900.000
                                                             liter
                                                  1.000
                = 900 liter
1
1
1
1
1
Skor maksimum
5
B. Uraian Nonobjektif
Jenis Sekolah     : SD
Mata Pelajaran   : PPKn
Kelas/Cawu       : 6/I
PB/SPB             : Persatuan dan Kesatuan
Indikator           : Siswa dapat menjelaskan tentang rasa bangganya sebagai bangsa Indonesia.
Butir Soal          : Jelaskan alasan apa saja yang membuat kita perlu berbangga sebagai bangsa Indonesia! 
Jawaban boleh bermacam-macam, namun pada pokoknya jawaban dapat dikelompokkan sebagai berikut:
KRITERIA JAWABAN
RENTANG SKOR
Kebanggan yang berkaitan dengan alam Indonesia
0 – 2
Kebanggan yang berkaitan dengan keindahan tanah air Indonesia (pemandangan alamnya, geografisnya, dsb.)
0 – 2
Kebanggan yang berkaitan dengan kenekaragaman budaya, suku, adat istiadat, tetapi dapat bersatu
0 – 2
Kebanggan yang berkaitan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia
0 – 2
Skor mkasimum
8
 Pembobotan Soal Uraian
 Pembobotan
Pembobotan soal adalah pemberian bobot kepada suatu soal dengan cara membandingkannya dengan soal lain dalam suatu perangkat tes yang sama. Dengan demikian, pembobotan soal uraian hanya dapat dilakukan dalam penyusunan perangkat tes. Apabila suatu soal uraian berdiri sendiri maka tidak dapat dihitung atau ditetapkan bobotnya.
Bobot setiap soal uraian yang ada dalam suatu perangkat tes ditentukan dengan mempetimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan materinya dan karakteristik soal itu sendiri, seperti luas lingkup materi yang hendak dibuatkan soalnya, esensialitas dan tingkat kedalaman materi yang ditanyakan, dan tingkat kesukaran soal tersebut.
Di samping faktor-faktor tersebut, hal-hal lain yang perlu pula dipertimbangkan dalam pembobotan soal uraian adalah skala penskoran yang hendak digunakan, misalnya skala 10, skala 100. Apabila digunakan skala 10, misalnya, maka jumlah bobot semua soal itu harus 10 dan terbagi dalam semua soal yang ditanyakan. Dengan demikian, andaikata ada tiga soal. Mungkin saja soal No. 1 bobotnya 5, soal No. 2 bobotnya 2, dan soal No. 3 bobotnya 3. Apabila digunakan skala 100, maka jumlah bobot semua soal yang ditanyakan dalam perangkat tes itu harus 100, yang dirincikan dalam setiap soal yang ditanyakan. Hal ini semata-mata untuk memudahkan penghitungan skor.
Sebagaimana telah dikatakan di atas, tiap soal uraian, Baik BUO maupun BUNO, mempunyai skor mentah maksimum sendiri. Skor mentah maksimum suatu butir soal uraian tidak ada hubungannya dengan bobot soal tersebut. Dengan demikian, suatu soal dengan skor mentah maksimum 6, misalnya, dapat mempunyai bobot soal yang sama dengan skor mentah maksimum itu, dapat pula lebih rendah atau lebih tinggi daripada skor mentah maksimum itu.
Skor jadi yang diperoleh siswa yang menjawab suatu butir soal uraian ditetapkan dengan jalan membagi skor mentah yang diperoleh dengan skor mentah maksimum soal dan kemudian dikalikan dengan bobot soal tersebut. Rumus yang dipakai untuk penghitungan skor butir soal (SBS) adalah:
             A
SBS =           x   C
             B
Catatan:  SBS  = Skor Butir Soal
                    A =  skor mentah yang diperoleh siswa untuk butir soal itu
                    B =  skor mentah maksimum soal tersebut.
                    C =  bobot soal
Setelah diperoleh skor pada setiap soal (SBS), maka dapat dihitung total skor butir soal sebagai skor total siswa (STS) untuk serangkaian soal dalam tes itu, dengan menggunakan rumus:
STS  =  Ã¥  SBS
Contoh:
A. STS = Total bobot soal
* Dengan skala 10
No. Soal
Skor Mentah Perolehan
Skor Mentah Maksimum
Bobot Soal
Skor Butir Soal
(A)
(B)
(C)
(SBS)
1.
60
60
20
20,00
2.
40
40
30
30,00
3.
20
20
30
30,00
4.
20
20
20
20,00
Jumlah
140
140
100
100,00(STS)
B. STS  ¹  Total bobot soal
* Dengan skala 100
No. Soal
Skor Mentah
Skor Mentah Maksimum
Bobot Soal
Skor Butir Soal
(A)
(B)
(C)
(SBS)
1.
30
60
20
10,00
2.
40
40
30
30,00
3.
20
20
30
30,00
4.
10
20
20
10,00
Jumlah
100
140
100
80,00(STS)
Dalam penghitungan skor untuk satu butir soal (SBS) dan dalam penghitungan skor total siswa (STS) untuk suatu perangkat tes, tidak terdapat perbedaan antara soal uaraian objektif dan soal uraian nonobjektif.

Soal Jawaban Singkat dan soal jawaban benar salah

A. Soal Jawaban Singkat
 1. karateristik
Soal jawaban singkat adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban singkat berupa kata, prase, nama, tempat, nama tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti.
2. kemampuan yang diukur
Bentuk soal jawaban singkat sangat tepat digunakan untuk mengukur kemampuan peserta tes yang sangat sederhana. Kemampuan yang dikur dengan jawaban singkat adalah kemampuan menyebutkan istilah, kemampuan menyebutkan fakta, kemampuan menyebutkan prinsip, kemampuan menyebutkan metode atau prosedur, kemampuan menginterpretasi data sederhana, kemampuan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan anakadan kemampuan melengkapi persamaan.
3. Jenis Soal
Dari segi rumusan kalimatnya, soa! jawaban singkat dapat berupa kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat yang tidak lengkap.
Soal jawaban singkat dengan kalimat perintah, misalnya:
1. Tuliskan ibu kota propinsi Sulawesi Tenggara
2. Sebutkan alat indera untuk melihat
3. Sebutkan warna bunga mawar.
Soal jawaban singkat dengan kalimat tanya misalnya:
1. Apa nama ibukota Negara Indonesia?
2. dengan cara apa korupsi diberantas?
3. Dimanakah terjadinya gempa sunami?
Soal jawaban singkat dengan kalimat yang tidak lengkap misalnya:
1. Alat ini dinamakan…..
2. peta disamping menunjukkan Negara …..
3. gambar ini menunjukkan permainan……..
4. Penskoran
Penskoran dalam soal jawaban singkat dapat dilakukan setelah soal tersebut digunakan. Penskoran soal jawaban singkat sangat mudah dilakukan, skor 1 (satu) diberikan apabila jawaban benar, dan skor 0 diberikan apabila jawaban salah.
5. Keunggulan dan Kelemahan
Soal jawaban singkat adalah salah satu bentuk soal yang mudah dibuat, khususnya karena berkaitan dengan hasil pembelajaran yang sangat sederhana, yaitu umumnya kemampuan yang biasa diukur. Salah satu keunggulan soal jawaban singkat adalah siswa harus memberikan jawaban secara tertulis, hal ini menguntungkan karena bentuk soal jawaban singkat mengurangi kemungkinan adanya siswa yang menebak jawaban soal.
Kelemahan soal jawaban singkat adalah
1. Sukar untuk mengukur hasil belajar yang kompleks
2. Sukar dalam hal penskoran, apabila penulis soal tidak menyajikan kunci jawaban yang tepat
3. Adanya kemungkinan kesalahan penulisan jawaban
6. Kaidah Penulisan Jawaban Singkat
Beberapa saran beriktu dapat membantu para dalam mengembangkan tes jawaban singkat sehingga dapat menyajikan soal yang terjamin kesahihannya.
1. Rumusan butir soal harus sesuai dengan kemampuan (kompetensi dasar dan indikator).
2. Rumusan butir soal harus menggunakan bahasa yang balk, kalimat singkat, dan jelas sehingga mudah dipahami.
3. Jawaban yang dituntuk oleh butir berupa kata, frase, angka, simbol, tahun, tempat dan sejenisnya harus singkat dan pasti.
4. rumusan butir soal tidak merupakan kalimat yang dikutip Iangsung dari suatu buku.
5. Hindari rumusan butir soal yang mengandung petunjuk pada kunci jawaban.
6. Apabila rumusan butir soal dalam bentuk kalimat yang be!um Iengkap, bagian yang dikosongkan untuk diisi oleh peserta tes maksimum dua untuk satu kalimat soal.

B. Soal benar dan salah

 Karakteristik
Soal benar salah terdiri dari dua bagian yaitu bagiam pertama ada!ah alternatif jawaban benar sa!ah(B – S) yang harus dipilih oleh peserta didik, dan bagian ke dua adalah pernyataan yang harus direspon oleh peserta didik. Jika pernyataan benar menurut peserta didik maka is akan memilih jawaban benar (B), dan jika menurut peserta didik pernyataan itu salah maka is akan memilih jawaban salah (S).
Jumlah alternatif jawaban (B – S) harus sama dengan jurniah pernyataan. Ciri khusus bentuk benar salah ada!ah terbatas pada mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana. Bentuk soar benar salah dapat juga menggunakan gambar, tabel, dan diagram.
Kemampuan yang Diukur
Bentuk soal benar salah sangat balk untuk mengukur kemampuan peserta didi yang sangat sederhana, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi kebenaran fakta yang disajikan dalam soak Jika fakta yang disajikan benar menurut peserta didik maka ia akan memilih jawaban benar (B), sebaliknya jika fakta yang disajikan salah menurut peseta didik maka ia akan memilih jawaban salah (S).
Contoh soal benar salah
1. B — S Gaya adalah sesuatu yang mengubah kedudukan atau bentuk benda.
2. B — S 25% dari 44 adalah kurang dari 12
3. B — S UUD 1945 telah diamandemen sebanyak 4 kali
4. B — S UUD 1945 tidak boleh dirubah substansinya.
Jenis Soal
Bentuk soal benar salah terdiri atas benar tidak benar, tepat tidak tepat, ya tidak, fakta atau pendapat, dan setuju tidak setuju. Berdasarkan jawaban peserta didik dan penskorannya maka soal benar salah adalah soar yang menuntut peserta didik untuk memilih satu jawaban yaitu B kalau benar dan S kalau salah
Penskoran
Penskoran soal benar salah sangat sederhana karena menggunakan penskoran dikotomi yaitu skor 1 kalau jawaban benar dan skor 0 kalau jawaban salah.
Keunggulan dan kelemahan
Keunggulan soal benar salah adalah
1. Mudah penyusunanya
2. Mudah penskorannya
3. banyak pokok bahasan, atau kompetensi dasar dan indikator yang dapat dicakup dalam soal karena peserta didik dapat merespon soal dalam jumlah banyak dengan waktu singkat.
Kelernahan soal benar salah adalah:
1. Soal benar salah hanya dapat digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif.
2. Tingginya peluang peserta didik untuk menebak jawaban benar karena pada soal benar salah peserta didik mempunyai peluang 50% untuk menjawab benar, sehingga skor tinggi belum tentu menggambarkan kemampuan tinggi.
3. Guru kesulitan dalam menginterpretasi kemampuan peserta didik yang sebenarnya, sehingga sulit bagi guru untuk memutuskan apakah peserta didik sudah memiliki kemampuan yang sesuai dengan yang diukur dalam soal.
Kaidah penulisan
Agar dapat menghasilkan soal benar salah yang relatif baik maka ada beberapa kaidah penulisan soal yang harus diikuti yaitu:
1. Hindari penyataan yang sangat umum, seperti penggunaan kata selalu, umumnya, seringkali, kadang-kadang,tidak pernah, semua, dan tidak ada.
2. Hindari pernyataan yang berlebihan, seperti penulisan soal yang berliku-liku, panjang lebar, atau soal cerita. Soal benar salah harus dirumuskan dengan singkat, jelas dan tegas.
3. Hindari pernyataan negatif, sepeti bukan, tidak, kecuali, tak, dan lain sebagainya.
4. Soal hendaknya tidak menjurus kejawaban tertentu, seperti kadang-kadang, pasti, selalu, dan tidak satupun.
5. Jumlah soal yang benar sama sama dengan jumlah soal yang salah.
Contoh soal:
1. Mahasiswa memiliki andil ketika jatuhnya rezim Soeharto yang menandai berakhirnya orde baru. (B/S)
2. Organisasi aksi mahasiswa yaitu PGI merupakan salah satu organisasi yang ikut menuntut TRITURA(Tiga Tuntutan Rakyat). (B/S)
 

Picture

Picture

Latihan Matematika Kelas IX

Hikmah

Ya Allah, Ya Tuhan kami, limpahkanlah kebaikan pada kami di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.