Pages

Rumus Rumus Identitas Trigonometri


Reciprocal identities
displaymath161
Pythagorean Identities
displaymath162
Quotient Identities
displaymath163
Co-Function Identities
displaymath164
Even-Odd Identities
displaymath165
Sum-Difference Formulas
displaymath166
Double Angle Formulas
align99
Power-Reducing/Half Angle Formulas
displaymath167
Sum-to-Product Formulas
displaymath168
Product-to-Sum Formulas
displaymath169

Walau Hanya Sekejap Mata



Seorang teman pernah mengatakan kepadaku seperti ini, ”Rif, kamu ini orang yang aneh.. masa ga ada sebab apa-apa, ga ada salah, malah minta maaf.. masa dosa ’sedikiiit’ saja sudah murung seperti itu, amal-amalmu kan masih banyak..toh Allah maha pengampun..?”

Seorang lain juga pernah mengatakan seperti ini, ”Mungkin kamu itu orang yang terlalu berlebihan dalam beragama.. masa cuman ketawa-ketawa seperti ini dianggap sia-sia..berlebihan..?” H..mmm, Pertanyaan yang sebenarnya aku sendiri agak sulit menjelaskannya.

Memang tidak salah..Allah Maha Pengampun kepada setiap hamba-Nya yang berdosa. Memang tak ada yang salah dalam tertawa, bercanda dan lain sebagainya. Smuanya berhukum mubah (boleh) dilakukan dan tidak akan berakibat dosa. Tapi, apakah tidak lebih baik.. aku yang sudah terlalu banyak dosa ini..untuk memanfaatkan kesempatan ’sekecil’ apapun dalam kehidupan dunia yang sangat sempit dan terbatas ini, untuk senantiasa melakukan ketaatan dan slalu ’ingat’ kepada Allah?

Apakah tidak lebih baik aku mencontoh para sahabat dan para salafussalih, orang-orang yang Allah telah meridhai mereka, atas perilaku mereka yang sangat ’berhati-hati’ dalam amalan sekecil apapun..?



Ada beberapa kisah menarik tentang bagaimana para sahabat sangat menjaga ’ruang hati’ mereka agar sedikitpun tak tergelincir dalam ketidakridhaan...

Tentang sahabat Abu Bakar ra. Suatu saat beliau pernah dengan tidak sengaja mengeluarkan kata-kata kasar kepada seorang sahabat, Rabiah al aslami ra. namanya. Tidak lama kemudian, Abu Bakar menyadari kesalahannya, maka ia berkata kepada Rabiah, ”ucapkanlah kata-kata yang sama kepadaku sehingga menjadi balasan yang sama bagiku”. Namun rabiah menolaknya.
Abu bakar menjawab dengan sedikit memaksa, ”kamu harus mengucapkannya (membalasnya), jika tidak saya akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah SAW.”
Orang-orang banu aslam yang tidak mengetahui siapa Abu Bakar, yang menyaksikan kejadian itu mengatakan, ”orang ini aneh, ia sendiri yang memulainya, tapi ia sendiri yang mengadukannya kepada Rasulullah.”

Kisah lain, seorang sahabat nabi, Hanzhalah ra.
Ia Bercerita, ”suatu ketika kami sedang berada di majelis Rasulullah saw. Beliau menyampaikan nasehat-nasehatnya kepada kami sehingga hati-hati kami menjadi lembut, dan air mata pun bercucuran. Setelah selesai dari majelis Rasulullah, saya kembali ke rumah dan berkumpul bersama anak dan istri. Lalu mulailah kami membicarakan masalah duniawi dan ’bercanda’ dengan anak-anakku, serta bercumbu dengan istriku. Keadaan pada saat itu, sangat berbeda dengan ketika saya berada di dalam majelis Rasulullah. Baru terpikir di benakku bahwa tadi saya berada dalam suasana bagaimana dan sekarang ini seperti apa.

Hanzhalah ra melanjutkan, ”Saya berkata dalam hati, jadi kamu ini seorang ’MUNAFIK’. Sebab ketika kamu berada di dalam majelis Rasulullah, keadaanmu berbeda dengan ketika kamu berada bersama anak-istrimu. Saya sangat kecewa ketika menyadari hal ini. Dengan pikiran kalut saya keluar rumah sambil berkata, ”Hanzhalah! Kamu telah Munafik.. Hanzhalah! Kamu telah Munafik..”.
Lalu Abu Bakar Ra. Menghampiriku. Saya berkata kepadanya, ”bahwa Hanzhalah telah Munafik..”
Beliau langsung mengucapkan, ”Subhaanallah! Sangat tidak benar apa yang telah kau ucapkan itu!”
Saya pun menceritakan kejadiannya..
Abu Bakar menyahut, ”Ya, itupun telah terjadi pada diri kami.” Lalu keduanya pergi menemui Rasulullah saw.

Beliau saw. kemudian bersabda, ”Demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika pada setiap saat keadaanmu senantiasa seperti apa yang kau ceritakan ketika bersamaku, maka para malaikat akan menyambutmu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan untuk berjabat tangan denganmu. Tetapi wahai Hanzhalah, keadaan seperti itu terjadi ’kadang-kadang’ saja.”

Aneh..! Yaa..aneh memang. Masalah yang begitu sepele bagi orang-orang yang benar imannya seakan begitu berat dan serius.

MEREKA SEAKAN MELIHAT SEEKOR SEMUT YANG JAUH DARI PANDANGAN MATA MEREKA, SEPERTI MELIHAT SEEKOR GAJAH YANG SANGAT BESAR..

Sungguh di luar logika orang kebanyakan pemikiran orang-orang yang sangat dekat dengan Allah..

Tapi itulah keadaan para sahabat dan salafussalih, orang-orang yang Allah telah ridha kepada mereka, adalah orang-orang yang sangat menjaga ’Hati’ mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat berhati-hati menjaga setiap tingkah laku mereka agar sedetik pun tidak tergelincir dalam dosa. Sedikitpun pun ada ketidaknyamanan dalam ruang hati mereka, mereka sudah mengira berbuat dosa, bahkan menganggap telah menjadi ’MUNAFIK’. Subhaanallah.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa ’menghitung-hitung’ (menghisab) segala sesuatu yang telah mereka kerjakan. Senantiasa takut apakah sudah cukup bekal amal yang mereka kerjakan untuk menghadapi hari yang sangat Dahsyat setelah kematian..

Bahkan ketika Rasulullah SAW. melewati beberapa sahabat yang sedang tertawa terbahak-bahak dan berlebihan, seketika itu juga beliau memperingatkan, ”Seandainya kalian banyak mengingat maut, maka tidak akan terjadi keadaan seperti yang saya lihat saat ini. Oleh karena itu perbanyaklah mengingat kematian...”

Saking takutnya akan kematian dan hisab, Abu Bakar bahkan sampai berkata kepada seekor burung, ”Wahai burung, alangkah nikmatnya hidupmu, kamu makan, minum, dan terbang diantara pepohonan tetapi di akherat tidak akan ada hisab untukmu. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu.”

Begitu juga Umar bin Khattab ra. Mengatakan, ”pada hari kiamat nanti, akan diumumkan kepada seluruh manusia; bahwa seluruh manusia akan masuk ke dalam surga, kecuali seorang yang memasuki neraka. Saya ’takut dan khawatir’ bahwa orang itu adalah saya, karena dosa-dosa saya yang sangat banyak.”

Bahkan diceritakan tentang seorang ulama, Robi’ bin Sutaim rah.a. bahwa selama 20 tahun beliau selalu menulis apa yang telah diucapkannya di sehelai kertas dan pada malam harinya dia akan menghisabnya (menghitung-hitungnya), berapa banyak ucapannya yang penting dan berapa ucapannya yang tidak penting.

Mereka adalah orang-orang yang benar-benar takut dengan suatu hari, dimana tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan hati mereka menjadi saksi atas apa yang telah mereka perbuat..

”...Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS.Al-isra’:17)

Thawus al Yamani ra., seorang sahabat yang sangat terkenal akan kelembutan dan kehalusan perasaannya, bahkan pada saat kondisi sakit pun ia berusaha menghisab rintihan sakitnya.
Katanya, ”Tidaklah ada perkataan Ibnu Adam yang diucapkannya, kecuali perkataan itu pasti dihisab oleh Allah SWT. Termasuk ’Rintihannya’ ketika ia sakit.”

Subhaanallah..

Rasulullah SAW. sendiri pernah pada suatu saat karena kehati-hatiannya terhadap suatu amalan, tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam. Beliau selalu mengubah posisi tidurnya, tetapi beliau tidak dapat memejamkan matanya sedikitpun.
Sehingga istri beliau bertanya, ”Mengapa engkau tidak bisa tidur yaa Rasulullah?”.
Sabda beliau SAW., ”Tadi ada sebuah kurma yang diletakkan di suatu tempat. Karena khawatir kurma itu terbuang begitu saja, maka saya telah memakannya. Dan sekarang saya merasa khawatir dan menyesal, karena mungkin kurma itu dikirimkan ke sini untuk disedekahkan kepada fakir miskin.”
Allahu Akbar.. Padahal kemungkinan besar kurma itu adalah milik beliau karena jelas-jelas berada di rumah beliau.

Saudaraku,
Banyak sekali ungkapan para sahabat ra. dan salafussalih yang isinya suara kegelisahan hati mereka. Kegelisahan yang muncul dari kesadaran kecil seiring ketidakberdayaan dirinya di hadapan Allah dan kekhawatiran bila semua amal ibadah yang telah dilakukannya tidak mencapai derajat sebagaimana para kekasih Allah. Kegelisahan yang seringkali mampu menimbulkan isak tangis dan lelehan air mata surga.

Lihatlah apa yang dikatakan istri Umar bin Abdul Aziz mengenai keadaan suaminya. Ia bercerita, ”mungkin saja ada orang yang lebih banyak melakukan shalat dan puasa dari suamiku. Tapi, aku belum pernah mendapatkan orang yang lebih memiliki rasa takut kepada Allah dari Umar bin Abdul Aziz.
”Setelah shalat Isya, aku pernah melihatnya duduk di masjid sambil berdo’a dan menangis. Ia menangis sampai tertidur. Lalu tersadar, melanjutkan berdo’a dan menangis, sampai tertidur kembali. Kemudian bangun, berdo’a dan menangis sampai tertidur lagi. Itulah yang dilakukannya sampai datang waktu Subuh.”

Allahu Akbar..

Saudaraku,
Memang kita harusnya malu, malu kepada Allah.. bahwa ternyata kita yang mengaku begitu mengagungkan islam, ternyata keadaan kita teramat jauh dari golongan para kekasih Allah..orang-orang yang telah diridhai-Nya..

Memang kita perlu lebih banyak lagi berfikir, merenung dan bermuhasabah-introspeksi diri.. bahwa ternyata begitu banyak waktu dan kesempatan yang terbuang dan kita sia-siakan tanpa ada nilai ketaatan di dalamnya..
Begitu banyak waktu kita, menit demi menit, tanpa disertai perkataan yang mampu menyelamatkan diri kita pada hari Hisab..
Dan begitu banyak waktu kita, detik demi detik dan tarikan nafas ini tanpa kita sertai dengan ’Hati’ yang selalu mengingat nama-Nya..

Kekasih kita yang mulia, Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits Pernah mengajarkan do’a seperti ini, ”Ya Allah, rahmat-Mu lah yang aku harapkan. Maka janganlah Kau serahkan diriku pada diriku sendiri, ’Sekejap Mata Pun’. Perbaikilah semua keadaanku. Tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Daud)

Jelas sekali, Rasul kita, guru yang paling baik dalam mengajarkan kebersihan dan kesucian jiwa itu bermunajat kepada Allah dengan potongan-potongan kata yang begitu ’serius’. Beliau meminta kepada Allah agar tidak dibiarkan sendirian dalam mengarungi hidup ini. Agar Allah tidak membiarkan ’hatinya’ dikuasai keinginan nafsu dan kelalaian, meski hanya ’tharfata’ain’.. atau walau ’Hanya Sekejap Mata’pun.

Itulah memang yang beliau ajarkan. Memang seharusnya, kita hidup ini tidak boleh sedikitpun tergelincir dalam kedurhakaan. ’Sedikitpun’ tidak boleh terjatuh dalam kemurkaan-Nya, ’sedikitpun’ tidak boleh lalai dari ’mengingat’ Allah.. Walau hanya ’Sekejap Mata’.

Yaah.. Walau hanya ’Sekejap Mata’..!





Wahai Dzat yang membolak-balikkan Hati, tetapkanlah Hatiku agar (senantiasa berada) di atas (petunjuk) agama-Mu..
Jadikan Hatiku untuk senantiasa mengingat nama-Mu..
Jadikan mataku menjadi mata yang senantiasa ’menangis’ karena-Mu..
Janganlah Kau serahkan diriku pada diriku sendiri, walau hanya ’Sekejap Mata’..

Kecendrungan menjadi pengusaha

Akhir-akhir ini kecenderungan untuk menjadi pengusaha terasa meningkat ditandai dengan adanya berbagai pelatihan dan munculnya berbagai lembaga yang menyediakan diri untuk mendorong dan melatih seseorang menjadi pengusaha.
Hal ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan. Semakin banyak pengusaha, maka semakin banyak lapangan kerja yang tersedia dan semakin banyak pengangguran yang bisa diserap. Saat ini pengangguran di Indonesia telah mencapai angka 11 juta. Jika kita asumsikan setiap usaha merekrut setidaknya 2 pegawai, maka jika tumbuh 1 juta pengusaha, akan tersedia 2 juta lapangan kerja. Dengan adanya pengusaha, pemerintah akan terbantu untuk menyediakan lapangan kerja. Kita tahu bahwa pemerintah juga memiliki keterbatasan. Munculnya pengusaha akan sangat membantu pemerintah.
Dengan tersedianya lapangan kerja, maka daya beli masyarakat akan meningkat dan pada akhirnya mengurangi angka kemiskinan. Saat ini kita masih memiliki 40 juta rakyat miskin, sebuah jumlah yang sangat besar. Jika 1 pekerja menghidupi 1 istri dan 1 anak, maka setidaknya 3 juta orang tertolong dengan hadirnya 1 pengusaha. Oleh karena itu, jumlah pengusaha harus ditingkatkan lagi agar semakin banyak orang tertolong.
Pada sisi lain, pengusaha juga merupakan penyumbang pajak bagi pemerintah. Sebagaimana diketahui, APBN kita 70 % lebih dibiayai oleh pajak. Jika jumlah pengusaha semakin banyak maka, jumlah penerimaan negara akan makin meningkat dan lebih banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk masyarakatnya.
Bagi pengusaha sendiri, seperti yang saya rasakan, lebih banyak yang bisa saya raih daripada saat dulu masih menjadi karyawan. Tulisan ini akan membantu para pembaca yang ingin mengetahui bagaimana caranya menjadi pengusaha.
Pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa takut menjadi pengusaha. Umumnya orang enggan menjadi pengusaha karena takut akan bankrut, takut tertipu dan lain-lain. Intinya takut akan resiko yang akan dihadapi. Padahal sebenarnya, apapun yang kita lakukan pada dasarnya beresiko. Sebagai contoh: kita menyeberang jalan, tentu ada resiko tertabrak. Sebagai orang yang dikaruniai akal, tentu kita tidak akan menyeberang sembarangan. Begitu pula dengan menjadi pengusaha, resiko bisa kita minimalkan dengan manajemen yang baik. Jika kita tidak sanggup menanggung resiko besar, kita bisa memilih resiko yang lebih kecil. Dan memang lebih baik memulai dari sesuatu yang kecil
Yang kedua adalah mengenai modal. Banyak orang batal menjadi pengusaha karena tidak memiliki modal. Sesungguhnya modal itu penting tapi bukan yang utama. Yang utama adalah ide. Uang berapapun tidak akan menghasilkan keuntungan jika tidak memiliki ide. Saya bisa memberikan kepada Anda uang 1 milyar hari ini, tetapi jika Anda tidak punya ide usaha, maka uang itu akan habis pelan atau cepat. Sebaliknya jika seseorang memiliki ide, maka uang akan datang dengan sendirinya. Banyak pengusaha yang memulai tanpa modal sama-sekali, dan pada akhirnya perbankan berebut menawarkan modal kepadanya.
Untuk memulai usaha, sekali lagi bukan modal uang yang dibutuhkan. Pilihlah usaha yang tidak membutuhkan uang untuk memulainya. Kita bisa belajar dari para pedagang yang menjual cash tetapi membeli dengan bayar di belakang. Jadi tidak ada modal uang. Jika memang membutuhkan uang, sementara Anda tidak memiliki uang, pakailah uang orang lain. Cukup sederhana. Masalahnya tinggal bagaimana Anda menggunakan ‘modal’ yang diberikan Tuhan, tubuh dan akal Anda untuk memakai uang orang lain.
Modal yang kedua adalah keberanian. Mulai dari sekarang, beranikan diri Anda untuk bermimpi. Mungkin ini agak aneh, tetapi dunia sudah membuktikan bahwa banyak penemuan ilmiah berdasarkan mimpi dan khayalan. Mobil-mobil sekarang ini berasal dari khayalan masa kecil. Ketika mimpi dan khayalan terwujud, kesuksesan sudah menanti di depan mata.
Selanjutnya, beranilah berbeda. Ditengah pasar yang kompetitif, menjadi beda adalah hal yang penting. Jika Anda membuat sesuatu yang sama dengan kompetitor Anda, maka produk atau jasa Anda peluangnya berbagi dengan kompetitor Anda. Sesuatu yang berbeda adalah nilai tambah. Dengan berbeda, keuntungan akan lebih besar. Lihatlah sekeliling, apa yang menjadi masalah atau kebutuhan di sekitar Anda. Dengan demikian Anda akan memahami pasar sebelum meluncurkan produk atau jasa.
Jika Anda sulit menemukan sebuah bisnis yang benar-benar baru, tidak perlu kecil hati karena Anda bisa memilih bisnis yang masih memiliki prospek pertumbuhan di masa mendatang. Salah satunya adalah bisnis di sektor telekomunikasi. Anda tidak perlu berpikir untuk mendirikan operator baru karena memang bukan itu ‘mainan’ yang tepat untuk pemula, namun lihatlah rantai bisnis telekomunikasi dari hulu sampai hilir. Lihat juga bisnis yang terkait dengan sektor telekomunikasi ini, karena sesungguhnya mata rantai bisnis ini sangat panjang.
Selanjutnya siapkan keberanian untuk memulai. Makin cepat akan makin baik. Ibarat antrian, yang lebih dulu akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Buanglah keraguan Anda, karena jika Anda selalu ragu-ragu, maka Anda tidak akan pernah memulai, dan Anda tidak tahu apakah Anda akan berhasil atau gagal. Jika tidak pernah memulai, maka Anda tidak bisa belajar bagaimana menghindari kegagalan dan Anda juga sekaligus tidak pernah mengalami kesuksesan. Anda hanya akan terus berpikir, tanpa pernah mencoba untuk melakukan yang Anda pikirkan. Seorang senior kami di HIPMI, Saudara Purdie E. Chandra yang memiliki Entrepreneur College memiliki sebuah metode memulai yang sederhana. Kita tidak usah berpikir macam-macam, kita lakukan saja semudah kita buang air di WC. Kita tidak pernah memikirkan bagaimana cara memasuki WC, kita juga tidak pernah memikirkan bagaimana cara buang air, apakah dengan ritme atau tidak. Begitu saja terjadi dan selesai. Kita sukses buang air. Kita tidak pernah memikirkan apakah kita akan gagal dalam buang air, kan? Jika kita gagal buang air, kita tinggal makan pepaya. Gitu aja koq repot?
Kalaupun ditengah perjalanan ada kegagalan, itu merupakan hal yang sangat biasa. Dengan demikian kita memiliki pengalaman, anggap saja hal itu merupakan biaya sekolah. Lebih baik kita gagal di awal daripada gagal di akhir. Pendiri dan pemilik KFC, telah gagal 19 kali untuk meyakinkan bahwa ayam gorengnya enak dan laku sebelum akhirnya menemui jalan suksesnya. Begitu juga Puspo Wardoyo gagal di tempat asalnya dan memulai usaha Ayam Bakar Wong Solo di Medan.
Jika kita belum memiliki pengalaman saat memulai usaha, merupakan sesuatu yang wajar. Pengalaman akan didapatkan seiring perjalanan usaha. Tidak ada seseorang yang tiba-tiba ahli dalam bidang apapun, semuanya melalui proses belajar. Sayangnya menjadi pengusaha tidak ada sekolahnya, sehingga trial and error menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan. Jika Anda lulus maka kesuksesan yang Anda raih, jika belum maka kesuksesan Anda akan tertunda. Kesuksesan seorang pengusaha ditentukan oleh berapa kali ia lebih banyak bangun dari kegagalan.
Jika sampai disini, masih ada keraguan untuk memulai usaha, saya khawatir Anda belum memiliki mindset seorang pengusaha. Mindset adalah pola pikir. Seorang pengusaha melihat kendala sebagai peluang. Ketika orang-orang perkotaan memiliki budaya malas dan memiliki waktu terbatas untuk mencuci, seorang pengusaha mendirikan usaha laundry. Dengan mindset ini, seorang pengusaha bisa struggle dan survive. Mulai dari sekarang rubahlah mindset Anda. Jika mindset ini sudah terbangun, maka Anda akan memiliki banyak akal, berpikir tidak linier dan mampu mengatasi segala masalah.
Ada pameo, lebih baik menjadi kepala semut daripada ekor gajah. Dengan menjadi pengusaha, kita menjadi kepala, bukan ekor. Apakah kemudian badan kita besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana kita mengelola usaha kita. Dengan makin majunya ilmu managemen, makin mudah mengelola manajemen perusahaan. Jadi beranikan diri Anda menjadi kepala.
 

Picture

Picture

Latihan Matematika Kelas IX

Hikmah

Ya Allah, Ya Tuhan kami, limpahkanlah kebaikan pada kami di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.